Selasa, 28 Februari 2012
Cinta hanya karena Allah Swt
Segala puji bagi Rahmat Allah Swt yang selalu di tuangkan kepada kita hambanya, yang kita selalu mengharapkan ampunan dan mengharapkan selalu berbuat baik hanya untuk Allah Swt, saudaraku kamu muslimin yang di muliakan Allah Swt, kita di anjurkan untuk saling menyayangi karena Allah Swt, saling membagi karena Allah, saling menasehati karena Allah semua kita niatkan buat Allah Swt,
Allah Swt berfirman : Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). ( Al Baqarah 165 )
Kaum muslimin yang di cintai Allah Swt, alangkah penuh dengan kenikmatan hidup kita di dunia ini kalau kita, tanpa iri dan dengki dan semua penyakit hati yang bisa menjauhkan kita dari cinta kita karena Allah Swt, semua kita serahkan kepada Allah karena Allah Swt sangat menyenangi saudara sesama muslim yang saling lemah lembut dan menjunjung tinggi agama Allah dan tali persaudaraan agama islam yang sangat kental.
Allah Swt Berfirman : Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.( Al Maai’dah 54 )
Nabi Muhammad Saw menasehati dan sangat menganjurkan kepada kita bahwa kita harus mencintai Allah dan Rosulnya lebih dari siapapun, oleh karena itu kita harus sesama muslim saling mencintai karena Allah dan Rosulnya, saling tegur sapa dan seyum terhadap saudara muslim hanya karena Allah, tidak boleh kita hanya baik karena hartanya, karena jabatannya, semua itu akan menimbulkan murka Allah Swt.
Saudara-saudaku yang ku cintai karena Allah, jalan yang terbaik, jalan yang mulia, contoh yang terbaik adalah apa yang yang telah di bawa oleh baginda Nabi Muhammad saw, dengan mencontohkan kepada kita bagaimana cara mencintai samuanya karena Allah dan benci pun karena Allah swt bukan karena hawa nafsu.
Allah Swt berfirman : Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ( Al ‘Imran 31 )
Dari ayat ini jelas Allah memerintahkan kita untuk mencontoh dan mengikuti Nabi Muhammad Saw, kalau memang betul-betul kita mencitai Allah Swt
Alhabib Abdullah bib Husin bin Thohir berkata : Asas dari semua kebaikan adalah mengikuti ajaran-ajaran Nabi Muhammad Saw, artinya mengikuti apa yang dicontohkan oleh Rosululah Saw, alangkah nikmatnya kita ummat islam yang Allah Swt muliakan kita dengan seorang Nabi yang sangat mulia, seorang Nabi yang mencintai semua karena Allah Swt, seorang Nabi yang akan menyelamatkan kita nanti di hadapan Allah Swt,
Ya Allah mudahkan hati dan jiwa ini untuk selalu cinta kepada mu dan cinta kepada Nabi mu yang sangat mulia, dan mudahkan kami sesama muslim untuk saling mencintai karena mu Ya Allah, damai karena mu Ya Allah. Amin Amin YA Robbal A’lamin
Senin, 27 Februari 2012
Menyulap Sampah
Kamis, 15 December 2011 00:00
Oleh: Andi Wim Ansharullah dan Muhammad Syariffudin Zhein, Mahasiswa Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Jurusan Teknik Lingkungan Universitas Islam Indonesia (UII)
Tak hanya di perkotaan, kini di pedesaan pun sampah menjadi masalah yang krusial. Masyarakat kita masih belum menyadari akan arti penting lingkungan sekitar. Mereka tidak peduli atau mungkin saja tidak tahu bagaimana nasib generasi yang akan datang bila terus menghasilkan sampah tanpa dikelola dengan baik.
Contoh bisa dilihat di Pasar Pujabahari atau Tos 3000 Batam. Disana akan kita temui sampah menggunung di sudut-sudut pasar yang dibiarkan begitu saja. Sampah-sampah tersebut kemudian menimbulkan berbagai permasalahan, diantaranya, muncul aroma yang tidak sedap dan pemandangan yang tidak enak untuk di lihat. Padahal sampah – sampah itu bila diolah dengan sedikit kreativitas dan kerja keras akan kaya manfaat serta menghasilkan uang yang tidak sedikit. Salah satunya, sampah bisa diolah menjadi berbagai souvenir atau aksesoris yang bernilai jual.
Meningkatnya jumlah penduduk dalam ruang hidup yang konstan, tingginya gaya hidup serta kurangnya Iptek dan Imtak merupakan faktor-faktor yang menyebabkan volume sampah yang di hasilkan kian hari kian bertambah. Mengutip dari buku Teti Suryati yang berjudul Bijak dan Cerdas Mengolah Sampah, “Menurut data Dinas Kebersihan DKI Jakarta (2007), setiap orang rata-rata menghasilkan 1-2 kg sampah setiap hari. Jika penduduk Indonesia 200 juta orang, jumlah sampah yang menumpuk setiap hari mencapai 400.000 ton dan 60% diantaranya adalah sampah rumah tangga. Sampah kita. Jika sampah sebanyak itu tidak dikelola dengan benar, masalah lingkungan seperti banjir, polusi tanah, air dan udara serta berbagai penyakit tak pelak segera menyambangi kita.” (Suryati, 2009:12)
Problema sampah ini harus segera ditanggapi dengan cepat dan serius agar tidak menimbulkan masalah-masalah yang lebih kompleks di kemudian hari. Dan tentunya pengolahan sampah bukanlah pekerjaan rumah pemerintah saja, namun juga perlu dukungan dari setiap lapisan masyarakat.
Sampah, menurut definisi (WHO), adalah sesuatu yang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi, atau sesuatu yang dibuang yang berasal dari kegiatan manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya.
Sampah berdasarkan sifatnya terbagi atas dua jenis, yakni sampah organik dan sampah anorganik. Sampah organik adalah jenis sampah yang mudah terurai. Sampah jenis ini mencapai 60-70% dari total volume sampah yang ada di Indonesia. Sampah organik ini pun terbagi atas dua macam, yaitu, a) Sampah organik basah, sampah yang mempunyai kandungan air yang tinggi, misalnya buah dan sayuran. b) Sampah organik kering, Sampah yang mempunyai kandungan air yang sedikit di banding sampah organik basah, misalnya kertas, ranting pohon dan dedaunan
Sebaliknya, sampah anorganik adalah sampah yang tidak mudah terurai, seperti plastik wadah pembungkus makanan, kertas, plastik mainan, botol dan gelas minuman, kaleng, kayu, dan sebagainya. Sampah ini dapat dijadikan sampah komersil yang laku dijual untuk dijadikan produk lainnya.
Kebiasaan dan perilaku masyarakat terkait dengan pengelolaan sampah perlu segera diperbaiki. Selama ini masyarakat membuang begitu saja sampah ke tempat-tempat sampah lalu menyerahkan urusannya ke petugas kebersihan dan menganggap urusan selesai sampai disitu saja. Padahal dengan terus menggunungnya sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) akan menjadi problem tersendiri, yakni problem kesehatan, pencemaran dan keindahan lingkungan.
Oleh karena itu, mulai dari sekarang, sebelum membuang sampah kita perlu melakukan 4M (Memilah, Menghemat, Memakai ulang dan Mendaur ulang). Dengan memilah sampah, baik dengan cara memisahkan sampah organik dan anorganik ataupun dengan lebih spesifik memisahkan antara sampah plastik, kertas, kaleng, dan kaca akan membuat kita lebih sadar akan jumlah sampah yang kita hasilkan setiap hari dan tentunya juga memudahkan pengolahan sampah di tahap selanjutnya.
Tak hanya uang yang perlu dihemat namun demikian juga sampah. Hal ini bisa dilakukan dengan berbagai cara, contohnya belanja di supermarket dalam jumlah yang besar sekaligus, sehingga akan menghemat jumlah plastik yang digunakan. Atau bisa juga dengan membawa tas kain saat berbelanja agar tidak perlu lagi menggunakan tas plastik.
Tak jauh berbeda dengan contoh dalam menghemat sampah, memakai ulang bisa dilakukan dengan menggunakan kembali plastik belanjaan dari supermarket menjadi plastik sebagai kantong sampah. Yang terakhir, dengan mendaur ulang sampah menjadi bahan baku dari suatu produk akan mengurangi pemakaian sumber daya alam yang semakin lama semakin menipis kuantitasnya dan tentunya juga bisa mengisi pundi-pundi uang kita.
Terdapat berbagai macam cara pengolahan sampah organik maupun anorganik yang dapat menghasilkan uang. Khusus pengolahan sampah organik, yang akan dibahas oleh penulis di artikel ini hanyalah kompos dan kerajinan tangan. Keuntungan dari pengolahan sampah organik menjadi kompos tak hanya untuk mengurangi jumlah sampah dan menjaga kebersihan lingkungan saja, tetapi juga dapat menyediakan lapangan pekerjaan, menyediakan pupuk organik berkualitas tinggi kepada para petani dengan harga terjangkau, menanggulangi kelangkaan pupuk dan lahan kritis, mencegah pemanasan global dan mendukung terciptanya ketahanan pangan nasional berbasiskan pertanian organik.
Berikut akan dijabarkan salah satu cara mudah membuat kompos dengan hanya menggunakan lahan terbatas yang penulis kutip dari alamendah.wordpress.com, a, sediakan drum atau sejenisnya.
b. Lubangi kecil-kecil bagian dasar drum untuk rembesan air dari sampah. c. Tanam drum dengan kedalaman sekitar 10 cm dari permukaan tanah. d. Masukkan sampah organik ke dalam wadah (drum) setiap hari.e. Taburi dengan sedikit tanah, serbuk gergaji, atau kapur secara berkala.f. Bila terdapat kotoran binatang bisa ditambahkan untuk meningkatkan kualitas kompos.g. Setelah penuh, tutup drum dengan tanah dan diamkan selama tiga bulan.
h. Keluarkan isi drum dan angin-anginkan selama 2 minggu. Kompos sudah dapat digunakan.
Selain dijadikan kompos, sampah organik juga dapat dijadikan berbagai kerajinan tangan. Dengan menggunakan bahan organik sisa hasil industri pertanian misalnya, kita dapat mengolah kulit jagung menjadi bunga hiasan rumah juga batok kelapa dan eceng gondok menjadi tas. Banyak pula kerajinan tangan yang bisa dihasilkan dengan menggunakan kulit kerang atau kulit ikan, semuanya tergantung kreativitas dari masing-masing orang.
Selanjutnya, untuk sampah-sampah anorganik juga bisa diolah menjadi suatu produk yang bernilai jual.
“Ya, sampah anorganik bisa didaur ulang menjadi beragam kebutuhan, mulai dari aneka kerajinan hingga beragam produk yang bernilai tinggi. Misalnya, ban bekas bisa dijadikan bahan dasar sandal jepit, alumunium foil bisa digunakan sebagai bahand asar tas, kaleng bekas dengan sedikit polesan bisa menjadi celengan, hingga sebuah miniature pesawat yang super cantik.” (Aminah, 2009:12)
Sebagai tambahan, kini di Indonesia telah dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). PLTSa didefinisikan sebagai "pemusnah sampah" (Incinerator) modern yang dilengkapi peralatan kendali pembakaran serta sistem monitor emisi gas buang yang kontinyu dan dapat menghasilkan energi listrik. Dan ternyata teknik pengolahan sampah menjadi energy listrik menggunakan prinsip yang sangat sederhana, seperti yang ditulis dalam blog isidunia.com, 1. Sampah di bakar sehingga menghasilkan panas (proses konversi thermal). 2. Panas dari hasil pembakaran dimanfaatkan untuk merubah air menjadi uap dengan bantuan boiler. 3. Uap bertekanan tinggi digunakan untuk memutar bilah turbin. 4. Turbin dihubungkan ke generator dengan bantuan poros. 5. Generator menghasilkan listrik dan listrik dialirkan kerumah – rumah atau ke pabrik.
Terbukti dengan kreativitas dan kerja keras, masalah-masalah sampah di Negara kita bisa diatasi, bahkan lebih dari itu, kita juga dapat memperoleh tambahan penghasilan dari sampah. Maka dari itu, marilah mulai sekarang kita olah sampah-sampah disekitar kita agar bisa menjadi lebih dari sekedar sampah, untuk bumi yang lebih baik. Karena sampah merupakan tanggung jawab kita bersama.**
TUGAS GAMBAR TEKNIK
Setelah bersusah payah menggambar bersama teman-teman di Hall FTSP akhirnya selesai juga tugas buwat menggambarnya. Cuaca yang panas tak menyurutkan niat kita buat menyelesaikan tugas ini, hhehhe....karena besoknya harus udah di kumpul jadi mau ga mau harus cepat selesai. Namun seru juga bisa bercanda dan crita ngalor-ngidul, lama-lama setelah dipikir-pikir pembcaraan kita juga malah gak nyambung, tapi tetep seru, itung-itung buat melepas kejenuhan. Pembagian tugas juga tidak dilupakan selain buwat mempercepat agar selesai tugas ini juga sebagai bukti bahwa kekompakan harus tetap di utamakan.
Senin, 16 Januari 2012
PROPOSAL PENELITIAN MENGUBAH SAMPAH ORGANIK DI PASAR BANJARSARI (CIAMIS) MENJADI PUPUK ORGANIK
PROPOSAL PENELITIAN MENGUBAH SAMPAH ORGANIK DI PASAR BANJARSARI(CIAMIS)MENJADI PUPUK ORGANIK
Oleh :
Nama/ NIM :Fahmi Hastanti M (11513075)
Muh. Syariffudin Zhein (11513076)
Umi Laelatushofiah (11513079)
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillaahirrahmaanirrohiim,
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan Rahamat, Hidayah, serta Inayah-Nya kepada kita semua sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal penelitian yang berjudul “Mengubah Sampah Organik di Pasar Banjarsari Kab.Ciamis menjadi Pupuk organik”. Tidak lupa juga sholawat serta salam kita curahkan kepada junjungan kita Nabi Agung Muhammad SAW yang telah kita tunggu-tunggu syafa’atnya di Yaumul Akhir nanti.
Proposal Penelitian berjudul Mengubah Sampah Organik menjadi Pupuk Organik di Pasar Banjarsari Kab.Ciamis ini, Alhamdulillah dengan perjalanan waktu yang cukup panjang dengan pengalaman yang berliku-liku bisa penulis selesaikan.Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam Proposal Penelitian ini terdapat banyak sekali kekurangan-kekurangan baik dari segi penggunaan kata dan bahasa yang belum memenuhi kaidah yang tepat, maupun dari isi penelitian ini sendiri.Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan bantuan, kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak yang membaca Proposal Penelitian ini.
Dalam menyelesaikan proposal penelitian ini penulis cukup banyak mendapatkan bimbingan dan bantuan baik secara moril maupun material.Oleh sebab itu penulis mempersembahkan ucapan terima kasih kepada, Yth : Hijrah Purnama Putra, S.T., M. Eng
Sekali lagi penulis ucapkan syukur kepada Ilahi Rabbi semoga ilmu yang didapatkan mendatangkan makna dan manfaat dalam kehidupan, terima kasih.
Wassalamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakatuh
Penulis .
BAB I
PENDAHULUAN
A. Judul
Pada kegiatan Program Kreatifitas Mahasiswa yang akan diikuti saat ini kami mengambil judul “Mengubah Sampah Organik di Pasar Banjarsari Kab. Ciamis menjadi Pupuk organik ”, yang akan diuraikan secara jelas pada penjelasan berikut.
B. Latar Belakang
Pertumbuhan ekonomi dan pertambahan penduduk yang terus meningkat seiring peluang usaha yang semakin ketat serta untuk mendapat modal usaha sulit di Indonesia menyebabkan pertambahan konsumsi energi di segala sektor kehidupan seperti transportasi, listrik, dan industry meningkat. Sehingga secara langsung menimbulkan permasalahan sampah kota, yaitu sampah organik atau sampah anorganik yang pada khususnya dihasilkan pasar-pasar tradisional. Misalnya saja Pasar Banjarsari yang terdapat di Kabupaten Ciamis, di pasar ini banyak kita jumpai berbagai macam sampah organik seperti sayur-sayuran, buah-buahan, dan lain-lain.Sampah-sampah tersebut hanya dibuang dan dibiarkan begitu saja di tempat pembuangan sampah tanpa ada pemisahan antara sampah kering dan sampah padat. Tentunya lama-kelamaan hal tersebut akan menjadikan tempat sampah tersebut menjadi sarang berbagai hewan dan akan menimbulkan bau yang kurang sedap. Maka dari itu, sekarang kita mulai berfikir bagaimana cara kita untuk mengurangi tumpukan sampah organic tersebut untuk kita olah.
Di sini kami telah menyiapkan progam untuk mengolah sampah-sampah organic tersebut khususnya sampah sayur-sayuran dan buah-buahan untuk kita olah menjadi pupuk.Yang mana nantinya hasil pengolahan dari sampah-sampah organic tersebut yang berupa pupuk dapat kita jual kepada masyarakat.
C. Rumusan Masalah
Dalam melakukan penelitian mengenai mengubah sampah organic menjadi pupuk organic di Pasar Banjarsari Kab.Ciamis. Maka diperlukan rumusan masalah yang bisa membantu mencari solusi dan sebab akibat dari aktifitas masyarakat di pasar tradisional pada khususnya.
Adapun rumusan masalah yang diterapkan adalah :
1. Apa solusi yang dilakukan untuk mengatasi masalah-masalah tentang menumpuknya sampah khususnya sayur-sayuran dan buah-buahan di Pasar Banjarsari?
2. Bagaimanakah proses pengolahan sampah pasar hingga menjadi pupuk organic?
D. Tujuan Penelitian
Tujuan di dirikannya Unit Pengolahan Sampah Pasar Banjarsari Kab. Ciamis adalah :
1. Mampu mengurangi (reduce) volume sampah yang di buang ke tempat pembuangan sampah akhir (TPA)
2. Dapat mengkonversi (reuse & recycle) sampah menjadi barang yang berguna bagi masyarakat seperti pupk kompos, pupuk cair dan bio gas
3. Dengan pengelolaan yang profesional konversi di harapkan bisa mendatangkan keuntungan ekonomi dari hasil penjualan pupuk kompos, pupuk cair dan bio gas
4. Dapat melakukan replikasi pengolahan sampah ke pasar tradisional yang lain.
E. Manfaat Penelitian
Manfaat yang dapat di ambil dari penelitian ini adalah :
1. Mereduksi sampah secara sistematis.
2. Menambah penghasilan bagi komunitas pasar.
3. Menyediakan pupuk organik berkualitas tinggi bagi petani dengan harga terjangkau.
4. Menanggulangi kelangkaan pupuk dan lahan kritis.
5. Mengurangi beban pengelolaan sampah pemerintah daerah
6. Mencegah pemanasan global.
7. Mendukung terciptanya ketahanan pangan nasional berbasiskan pertanian organik.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Pada bab ini akan diuraikan hal-hal yang berkaitan dengan persampahan yang dikutip dari beberapa literatur. Beberapa hal yang akan dikutip adalah pengertian tentang sampah,jenis-jenis sampah, dampak negative sampah dan teknologi pengomposan.
a. Pengertian Sampah
Pengertian sampah adalah suatu yang tidak dikehendaki lagi oleh yang punya dan bersifat padat. Sementara didalam UU No 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, disebutkan sampah adalah sisa kegiatan sehari hari manusia atau proses alam yang berbentuk padat atau semi padat berupa zat organik atau anorganik bersifat dapat terurai atau tidak dapat terurai yang dianggap sudah tidak berguna lagi dan dibuang kelingkungan, (Slamet,2002).
Berdasarkan difinisi diatas, maka dapat dipahami sampah adalah :
1. Sampah yang dapat membusuk (garbage), menghendaki pengelolaan yang cepat. Gas-gas yang dihasilkan dari pembusukan sampah berupa gas metan dan H2S yang bersifat racun bagi tubuh.
2. Sampah yang tidak dapat membusuk (refuse), terdiri dari sampah plastik, logam, gelas karet dan lain-lain.
3. Sampah berupa debu/abu sisa hasil pembakaran bahan bakar atau sampah.
4. Sampah yang berbahaya terhadap kesehatan, yakni sampah B3 adalah sampah yang karena sifatnya, jumlahnya, konsentrasinya atau karena sifat kimia, fisika dan mikrobiologinya dapat meningkatkan mortalitas dan mobilitas secarabermakna atau menyebabkan penyakit reversible atau berpotensi irreversible atau sakit berat yang pulih.
5. Menimbulkan bahaya sekarang maupun yang akan datang terhadap kesehatan atau lingkungan apabila tidak diolah dengan baik.
b. Sumber- Sumber Sampah
Menurut Gilbert dkk.(1996), sumber-sumber timbulan sampah adalah sebagai berikut :
a. Sampah dari pemukiman penduduk
Pada suatu pemukiman biasanya sampah dihasilkan oleh suatu kluarga yang tinggal disuatu bangunan atau asrama.
Jenis sampah yang dihasilkan biasanya cendrung organik, seperti sisa makanan atau sampah yang bersifat basah, kering, abu plastik dan lainnya.
b. Sampah dari tempat – tempat umum dan perdagangan
Tempat- tempat umum adalah tempat yang dimungkinkan banyaknya orang berkumpul dan melakukan kegiatan. Tempat – tempat tersebut mempunyai potensi yang cukup besar dalam memproduksi sampah termasuk tempat perdagangan seperti pertokoan dan pasar. Jenis sampah yang dihasilkan umumnya berupa sisa – sisa makanan, sayuran busuk, sampah kering, abu, plastik, kertas, dan kaleng- kaleng serta sampah lainnya.
Berbagai macam sampah yang telah disebutkan diatas hanyalah sebagian kecil saja dari sumber- sumber sampah yang dapat ditemukan dalam kehidupan sehari - hari. Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan manusia tidak akan pernah lepas dari sampah. Terutama penumpukan sampah yang terjadi di tempat-tempat umum seperti di pasar-pasar. Di pasar-pasar yang setiap harinya digunakan untuk berdagang antara penjual dengan pembeli tentunya tidak lepas dari sampah yang dihasilkannya.
c. Jenis– Jenis Sampah
Jenis sampah yang ada di sekitar kita cukup beraneka ragam, ada yang berupa sampah rumah tangga, sampah industri, sampah pasar, sampah rumah sakit, sampah pertanian, sampah perkebunan, sampah peternakan, sampah institusi/kantor/sekolah, dan sebagainya. Berdasarkan asalnya, sampah padat dapat digolongkan menjadi 2 (dua) yaitu sebagai berikut :
1. Sampah Organik
Sampah organik adalah sampah yang dihasilkan dari bahan – bahan hayati yang dapat didegradasi oleh mikroba atau bersifat biodegradable. Sampah ini dengan mudah dapat diuraikan melalui proses alami. Sampah rumah tangga sebagian besar merupakan bahan organik.
Termasuk sampah organik, misalnya sampah dari dapur, sisa – sisa makanan, pembungkus (selain kertas, karet dan plastik), tepung , sayuran, kulit buah, daun dan ranting. Selain itu, pasar tradisional juga banyak menyumbangkan sampah organic seperti sampah sayuran, buah-buahan dan lain-lain.
2. Sampah Anorganik
Sampah anorganik adalah sampah yang dihasilkan dari bahan-bahan nonhayati, baik berupa produk sintetik maupun hasil proses teknologi pengolahan bahan tambang. Sampah anorganik dibedakan menjadi : sampah logam dan produk – produk olahannya, sampah plastik, sampah kertas, sampah kaca dan keramik, sampah detergen. Sebagian besar anorganik tidak dapat diurai oleh alam/ mikroorganisme secara keseluruhan (unbiodegradable). Sementara, sebagian lainnya hanya dapat diuraikan dalam waktu yang lama. Sampah jenis ini pada tingkat rumah tangga misalnya botol plastik, botol gelas, tas plastik, dan kaleng, (Gelbert dkk, 1996).
d. Dampak Negatif Sampah
Sampah padat yang bertumpuk banyak tidak dapat teruraikan dalam waktu yang lama akan mencemarkan tanah.
Yang dikategorikan sampah disini adalah bahan yang tidak dipakai lagi ( refuse) karena telah diambil bagian-bagian utamanya dengan pengolahan menjadi bagian yang tidak disukai dan secara ekonomi tidak ada harganya. Menurut Gelbert dkk (1996) ada tiga dampak sampah terhadap manusia dan lingkungan yaitu :
1. Dampak Terhadap Kesehatan
Lokasi dan pengelolaan sampah yang kurang memadai (pembuangan sampah yang tidak terkontrol) merupakan tempat yang cocok bagi beberapa organisme dan menarik bagi berbagai binatang seperti, lalat dan anjing yang dapat menjangkitkan penyakit. Potensi bahaya kesehatan yang dapat ditimbulkan adalah sebagai berikut :
a. Penyakit diare, kolera, tifus menyebar dengan cepat karena virus yang berasal dari sampah dengan pengelolaan tidak tepat dapat bercampur air minum. Penyakit demam berdarah (haemorhagic fever) dapat juga meningkat dengan cepat di daerah yang pengelolaan sampahnya kurang memadai.
b. Penyakit jamur dapat juga menyebar (misalnya jamur kulit).
c. Penyakit yang dapat menyebar melalui rantai makanan. Salah satu contohnya adalah suatu penyakit yang dijangkitkan oleh cacing pita
(taenia). Cacing ini sebelumnya masuk kedalam pencernakan binatang
ternak melalui makanannya yang berupa sisa makanan/ sampah.
2. Dampak Terhadap Lingkungan
Cairan rembesan sampah yang masuk kedalam drainase atau sungai akan mencemari air. Berbagai organisme termasuk ikan dapat mati sehingga beberapa spesien akan lenyap, hal ini mengakibatkan berubahnya ekosistem perairan biologis. Penguraian sampah yang di buang kedalam air akan menghasilkan asam organik dan gas cair organik, seperti metana. Selain berbau kurang sedap, gas ini pada konsentrasi tinggi dapat meledak.
3. Dampak Terhadap Keadaan Sosial dan Ekonomi
Dampak-dampak tersebut adalah sebagai berikut :
a. Pengelolaan sampah yang tidak memadai menyebabkan rendahnya tingkat kesehatan masyarakat. Hal penting disini adalah meningkatnya pembiayaan (untuk mengobati kerumah sakit).
b. Infrastruktur lain dapat juga dipengaruhi oleh pengelolaan sampah yang tidak memadai, seperti tingginya biaya yang diperlukan untuk pengolahan air. Jika sarana penampungan sampah kurang atau tidak efisien, orang akan cenderung membuang sampahnya dijalan. Hal ini mengakibatkan jalanperlu lebih sering dibersihkan dan diperbaiki.
e. Pengertian Pengelolaan Sampah Dengan Konsep 3R
Menurut Departemen Pekerjaan Umum Kota Semarang (2008), pengertian pengelolaan sampah 3R secara umum adalah upaya pengurangan pembuangan sampah, melalui program menggunakan kembali (Reuse), mengurangi (Reduce), dan mendaur ulang (Recycle).
1. Reuse (menggunakan kembali) yaitu penggunaan kembali sampah secara langsung,baik untuk fungsi yang sama maupun fungsi lain.
2. Reduce (mengurangi) yaitu mengurangi segala sesuatu yang menyebabkan timbulnya sampah.
3. Recycle (mendaur ulang) yaitu memanfaatkan kembali sampah setelah mengalami proses pengolahan.
4. Mengurangi sampah dari sumber timbulan, di perlukan upaya untuk mengurangi sampah mulai dari hulu sampai hilir, upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam mengurangi sampah dari sumber sampah ( dari hulu ) adalah menerapkan prinsip 3R.
f. Teknik Pengolahan Sampah
Sampah (refuse) adalah sebagian dari sesuatu yang tidak dipakai, tidak disenangi atau sesuatu yang harus dibuang, yang umumnya berasal dari kegiatan yang dilakukan oleh manusia (termasuk kegiatan industri), tetapi bukan biologis (karena human waste tidak termasuk didalamnya) dan umumnya bersifat padat (Azwar, 1990). Sumber sampah bisa bermacam-macam, diantaranya adalah : dari rumah tangga, pasar, warung, kantor, bangunan umum, industri, dan jalan. Berdasarkan komposisi kimianya, maka sampah dibagi menjadi sampah organik dan sampah anorganik. Penelitian mengenai sampah padat di Indonesia menunjukkan bahwa 80% merupakan sampah organik, dan diperkirakan 78% dari sampah tersebut dapat digunakan kembali (Outerbridge, ed., 1991).
Pengelolaan sampah adalah semua kegiatan yang dilakukan dalam menangani sampah sejak ditimbulkan sampai dengan pembuangan akhir. Secara garis besar, kegiatan di dalam pengelolaan sampah meliputi pengendalian timbulan sampah, pengumpulan sampah, transfer dan transport, pengolahan dan pembuangan akhir (Kartikawan, 2007) sebagai berikut :
1. Penimbulan sampah (solid waste generated)
Dari definisinya dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya sampah itu tidak diproduksi, tetapi ditimbulkan (solid waste is generated, not produced).
Oleh karena itu dalam menentukan metode penanganan yang tepat, penentuan besarnya timbulan sampah sangat ditentukan oleh jumlah pelaku dan jenis dan kegiatannya.Idealnya, untuk mengetahui besarnya timbulan sampah yang terjadi, harus dilakukan dengan suatu studi. Tetapi untuk keperluan praktis, telah ditetapkan suatu standar yang disusun oleh Departemen Pekerjaan Umum. Salah satunya adalah SK SNI S-04- 1993-03 tentang Spesifikasi timbulan sampah untuk kota kecil dan kota sedang. Dimana besarnya timbulan sampah untuk kota sedang adalah sebesar 2,75-3,25 liter/orang/hari atau 0,7-0,8 kg/orang/hari.
2. Penanganan di tempat (on site handling)
Penanganan sampah pada sumbernya adalah semua perlakuan terhadap sampah yang dilakukan sebelum sampah di tempatkan di tempat pembuangan. Kegiatan ini bertolak dari kondisi di mana suatu material yang sudah dibuang atau tidak dibutuhkan, seringkali masih memiliki nilai ekonomis. Penanganan sampah ditempat, dapat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap penanganan sampah pada tahap selanjutnya. Kegiatan pada tahap ini bervariasi menurut jenis sampahnya meliputi pemilahan (shorting), pemanfaatan kembali (reuse) dan daur ulang (recycle). Tujuan utama dan kegiatan di tahap ini adalah untuk mereduksi besarnya timbulan sampah (reduce)
3. Pengumpulan (collecting)
Adalah kegiatan pengumpulan sampah dan sumbernya menuju ke lokasi TPS. Umunmya dilakukan dengan menggunakan gerobak dorong dan rumah-rumah menuju ke lokasi TPS.
4. Pengangkutan (transfer and transport)
Adalah kegiatan pemindahan sampah dan TPS menuju lokasi pembuangan pengolahan sampah atau lokasi pembuangan akhir.
5. Pengolahan (treatment)
Bergantung dari jenis dan komposisinya, sampah dapat diolah. Berbagai alternatif yang tersedia dalam pengolahan sampah, di antaranya adalah :
a. Transformasi fisik, meliputi pemisahan komponen sampah (shorting) dan pemadatan (compacting), yang tujuannya adalah mempermudah penyimpanan dan pengangkutan.
b. Pembakaran (incinerate), merupakan teknik pengolahan sampah yang dapat mengubah sampah menjadi bentuk gas, sehingga volumenya dapat berkurang hingga 90-95%. Meski merupakan teknik yang efektif, tetapi bukan merupakan teknik yang dianjurkan. Hal ini disebabkan karena teknik tersebut sangat berpotensi untuk menimbulkan pencemaran udara.
c. Pembuatan kompos (composting), Kompos adalah pupuk alami (organik) yang terbuat dari bahan - bahan hijauan dan bahan organik lain yang sengaja ditambahkan untuk mempercepat proses pembusukan, misalnya kotoran ternak atau bila dipandang perlu, bisa ditambahkan pupuk buatan pabrik, seperti urea (Wied, 2004). Berbeda dengan proses pengolahan sampah yang lainnya, maka pada proses pembuatan kompos baik bahan baku, tempat pembuatan maupun cara pembuatan dapat dilakukan oleh siapapun dan dimanapun.
d. Energy recovery, yaitu tranformasi sampah menjadi energi, baik energi panas maupun energi listrik. Metode ini telah banyak dikembangkan di Negara-negara maju yaitu pada instalasi yang cukup besar dengan kapasitas ± 300 ton/hari dapat dilengkapi dengan pembangkit listrik sehingga energi listrik (± 96.000 MWH/tahun) yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk menekan biaya proses pengelolaan.
6. Pembuangan akhir
Pada prinsipnya, pembuangan akhir sampah harus memenuhi syarat-syarat kesehatan dan kelestarian lingkungan. Teknik yang saat ini dilakukan adalah dengan open dumping, di mana sampah yang ada hanya di tempatkan di tempat tertentu, hingga kapasitasnya tidak lagi memenuhi. Teknik ini sangat berpotensi untuk menimbulkan gangguan terhadap lingkungan. Teknik yang direkomendasikan adalah dengan sanitary landfill.
Di mana pada lokasi TPA dilakukan kegiatan-kegiatan tertentu untuk mengolah timbunan sampah.
Dewasa ini masalah sampah merupakan fenomena sosial yang perlu mendapat perhatian dari semua fihak, karena setiap manusia pasti memproduksi sampah, disisi lain masyarakat tidak ingin berdekatan dengan sampah. Seperti kita ketahui bersama bahwa sampah yang tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan berbagai dampak negatif pada lingkungan. Gangguan yang ditimbulkan meliputi bau, penyebaran penyakit hingga terganggunya estetika lingkungan.
Beberapa permasalahan yang timbul dalam sistem penanganan sampah sistem yang terjadi selama ini adalah :
a. Dari segi pengumpulan sampah dirasa kurang efisien karena mulai dari sumber sampah sampai ke tempat pembuangan akhir, sampah belum dipilah-pilah sehingga kalaupun akan diterapkan teknologi lanjutan berupa komposting maupun daur ulang perlu tenaga untuk pemilahan menurut jenisnya sesuai dengan yang dibutuhkan, dan hal ini akan memerlukan dana maupun menyita waktu.
b. Pembuangan akhir ke TPA dapat menimbulkan masalah, diantaranya :
- Perlu lahan yang besar bagi tempat pembuangan akhir sehingga hanya cocok bagi kota yang masih mempunyai banyak lahan yang tidak terpakai. bila kota menjadi semakin bertambah jumlah penduduknya, maka sampah akan menjadi semakin bertambah baik jumlah dan jenisnya. Hal ini akan semakin bertambah juga luasan lahan bagi TPA.
- Dapat menjadi lahan yang subur bagi pembiakan jenis-jenis bakteri serta bibit penyakit lain juga dapat menimbulkan bau tidak sedap yang dapat tercium dari puluhan bahkan ratusan meter yang pada akhirnya akan mengurangi nilai estetika dan keindahan lingkungan.
g. Teknologi Pengomposan
a. Pengertian Kompos
Pengomposan (Composting) adalah sistem pengolahan sampah organic dengan bantuan mikroorganisme sehingga membentuk pupuk organik (pupuk kompos). Mengolah sampah menjadi kompos (pupuk organik) dapat dilakukan dengan berbagai cara, mulai yang sederhana hingga memerlukan mesin (skala industri atau komersial).
Membuat kompos dapat dilakukan dengan metode aerob dan anaerob. Pada pengomposan secara aerob, proses dekomposisi bahan baku menjadi kompos akan berlangsung optimal jika ada oksigen.
Sementara pada pengomposan anearob dekomposisi bahan baku menjadi kompos tidak memerlukan oksigen. Disisi lain pengomposan juga berarti menghasilkan sumber daya baru dari sampah yaitu kompos yang kaya akan unsur hara mikro. Upaya lain yang dapat dilakukan untuk mengurangi timbulan sampah seperti yang terjadi di Pasar Banjarsari adalah dengan melakukan pengolahan sampah organic melalui metode yang ramah lingkungan dan mudah untuk bisa dilakukan. Contohnya adalah mengolah sampah organic yang dihasilkan di Pasar Banjarsari untuk dijadikan pupuk kompos (pupuk organik).
Gambar 2.5 Skema pemisahan sampah.
Sumber : Dinas Kebersihan Kota Semarang
Dengan melakukan metode tersebut tentunya akan berdampak positive bagi lingkungan dan masyarakat sekitar yang mengolahnya. Selain menjadikan lingkungan bersih dan asri tentunya akan menghasilkan nilai ekonomi tersendiri bagi masyarakat.
b. Komposting
Di masa mendatang, penggunaan kompos sebagai sumber nutrisi tanaman akan sangat berarti dan memiliki prospek bisnis yang cerah.
Kompos tidak hanya mengandung unsur hara makro (N, P, dan K) , unsur hara mikro (Fe, B, S, dan Ca) pun terkandung lengkap di dalamnya walaupun diakui kandungan haranya lebih sedikit dibandingkan pupuk kimia. Namun, bahan baku penyusun kompos melimpah ruah dan cara pembuatannya cukup sederhana.
Penggunaan kompos tidak hanya sebagai penyedia unsur hara, tetapi lebih diutamakan untuk memperbaiki kondisi fisik tanah. Telah terbukti bahwa produk organic, terutama kompos, mampu menjaga keseimbangan alam. Bahan organic, seperti kompos memiliki peran penting dalam menjaga efektivitas dan efisiensi penyerapan unsur hara dalam tanah. Tidak hanya itu, kompos dapat pula meningkatkan kapasitas tukar kation, menambah kemampuan tanah dalam menahan air, meningkatkan aktivitas biologi dalam tanah, serta mampu meningkatkan pH pada tanah asam.
Di beberapa lokasi, sampah organic yang menggunung merupakan bahan baku kompos potensial.
Kenyataan ini didukung pula oleh keinginan manusia untuk hidup lebih baik, sehat, dan terbebas dari residu berbahaya. Sayangnya penggunaan kompos sebagai pupuk alami tidak selalu berjalan mulus. Banyak kendala yang harus diadapi terutama dari segi pemasaran. Selain kualitas kompos yang tidak merata, persaingan dagang dengan pupuk kimia menjadi halangan utama. Selain lebih praktis, respon pupuk kimia alam menunjukkan hasil nyata lebih cepat disbanding kompos. Murahnya harga jual pupuk kimia dan diperlukan sertifikat sah dari lembaga Sertifikasi Nasional atau Internasional dalam menjual pupuk organic.
c. Prinsip Dasar Membuat Kompos
Secara gambling, kompos dapat diartikan sebagai pupuk alami yang terbuat dari bahan-bahan hijauan dan bahan organic lain yang sengaja ditambahkan untuk mempercepat proses pembusukan. Pengolahan sampah menjadi kompos merupakan proses mikrobiologi dan berjalan secara aerobic dan anaerobic yang saling menunjang pada kondisi lingkungan tertentu sesuai hasil rekayasa. Saat pengkomposan terjadi perombakan bahan organic menjadi komponen lebih sederhana dan stabil dalam larutan berbentuk ionic dan mudah diserap oleh tumbuhan.Tidak semua jenis sampah bisas dijadikan bahan dalam pembuatan kompos.
Jenis yang dipakai ialah sampah organic yang mudah sekali busuk. Pemilahan dan penyeleksian sampah pun menjadi tahap penting dalam pengolahan sampah menjadi kompos. Penyeleksian bahan kompos dilakukan dalam dua tahap, yaitu pemilahan sampah organic dengan sampah anorganik. Selanjutnya, pemilahan sampah organic yang dapat didaur ulang melalui pengkomposan aerobic atau anaerobic. Dengan bahan organic pilihan, proses serta produk hasil pengomposan akan optimal. Penyeleksianpun dilakukan untuk meminimalisir terjadinya risiko dalam pengomposan yaitu sebagai berikut.
a. Jangka waktu proses pengomposan lama
b. Kemungkinan kompos terkontaminasi oleh zat beracun atau zat kimia
c. Timbulnya bau busuk, kerumunan serangga, dan masalah lingkungan lain di tempat pengomposan
Sebelum dimasukkan dalam wadah atau bak pengkomposan, sebaiknya bahan-bahan terpilah dirajang terlebih secara manual atau menggunakan mesin perajang hingga mencapai ukuran 1-7,5 cm. Perajangan ini bertujuan untuk mempercepat proses pengomposan dan menghasilkan produk kompos yang halus.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
a. Data Penelitian
Peralatan dan Bahan yang Dibutuhkan
Metode pengolahan sampah ini sangat sederhana, sehingga tidak memerlukan banyak peralatan. Alat-alat yang diperlukan antara lain:
1. plastik mulsa untuk menutup tumpukan kompos
2. sekop garpu untuk memilah-milah sampah
3. keranjang sampah
4. ember
5. karung
6. tali plastic
7. gerobak sampah
8. sekop
9. dan alat-alat bantu lainnya
Untuk mempercepat proses pengomposkan gunakan aktivator pengomposan.
Tahapan Pengomposan
Tahapan pengomposan adalah sebagai berikut:
1. mengangkut sampah ke lokasi pengomposan
2. sortasi sampah
3. pencacahan sampah dengan mesin pencacah.
4. penyusunan di dalam jalur-jalur sampah
5. menambahkan aktivator pengomposan
6. inkubasi
7. pengeringan
Membuat Pupuk Organik dari Kompos Sampah
Kompos yang sudah kering bisa dijual dalam bentuk curah atau diolah menjadi pupuk organik granul.Membuat kompos curah lebih mudah, tetapi harganya juga murah. Membuat kompos sebagai pupuk organik granul harganya lebih tinggi namun memerlukan tambahan proses pengolahan yaitu penjemuran dan pengayakan.
Alat-alat yang diperlukan untuk membuat pupuk organik granul dari kompos sampah antara lain:
1. Mesin pencacah kompos
2. Ayakan
3. Pan granulator
4. Timbangan
5. Mesin jahit karung
6. Pengering (jika perlu)
Sedangkan bahan-bahan pengayak untuk pembuatan pupuk organik antara lain:
1. Kaptan
2. dolomit
3. fosfat alam
4. pupuk kandang
5. perekat (molases atau bahan perekat lain)
b. Objek Penelitian
Sampah-sampah organic pasar Banjarsari kab. Ciamis
c. Periode Penelitian
Proses pembuatan pupuk organic dari sampah pasar.
Proses pembuatan kompos/ pupuk organik dari sampah pasar dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1. Pengumpulan Sampah dan Pemilahan Sampah, Sampah dikumpulkan dari dalam pasar dan ditampung di ruang penampungan.Di tempat ini sampah non organik dipisahkan dengan sampah organik.Karena sebagian besar sampah pasar Banjarsari adalah sampah organik, tahapan ini bisa dilakukan secara manual.
2. Pencacahan Sampah, Sampah organik yang sudah terpisah dengan sampah non organik selanjutnya dicacah dengan menggunakan mesin pencacah. Tujuan dari pencacahan ini adalah untuk memperkecil dan menyeragamkan bahan baku kompos sehingga mempermudah proses fermentasi. Bila di anggap terlalu basah, sampah yang telah di cacah dapat di press lagi untuk mengurangi kadar air.
3. Penyiapan Aktivator (PROMI)
Untuk mempercepat proses pengomposan kita menggunakan activator PROMI dari Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia. Untuk setiap 1 Ton sampah mentah di butuhkan 1 kg PROMI. Saat musim kemarau dimana sampah pasar relatif kering Promi tersebut dicampurkan bersama 20 liter air dan 1 liter tetes tebu. Namun di musim penghujan dimana kadar air sampah dari pasar cukup tinggi maka PROMI di campurkan dengan pasir atau tanah kering. Kalo perlu sampah yang akan di olah di press dulu.
4. Pencampuran PROMI di dalam Bak Pengomposan
Selanjutnya sampah yang telah dicacah dicampurkan dengan PROMI dan ditampung di bak-bak pengomposan. Sampah tidak boleh diinjak-injak, karena akan menyebabkan menjadi padat dan kandungan udara di dalam kompos berkurang.
5. Pengadukan / Pembalikan
Unit Pengolahan Sampah Pasar Banjarsari ini menggunakan system aerob / dengan udara terbuka.Jadi 3 hari setelah sampah di masukkan ke bak pengomposan kemudian di lakukan pemeriksaan suhu kompos di dalam bak. Bila di rasa terlalu panas perlu di lakukan proses pengadukan atau pembalikan untuk memberikan sirkulasi udara yang bertujuan agar proses pengomposan bisa merata. Pengadukan di lakukan minimal 3 hari sekali.
6. Panen Kompos
Setelah 14 hari sampah akan berubah warna menjadi kehitaman dan menjadi lebih lunak. Kompos sampah telah cukup matang.Kompos selanjutnya dipanen dan dibawa ke tempat pengolahan lebih lanjut.Di tempat ini kompos dicacah sekali lagi untuk kemudian di ayak menggunakan saringan yang lebih kecil untuk menyeragamkan ukuran dan mempercantik tampilan kompos.
7. Pengolahan Paska Panen Setelah kompos yang sudah jadi di ayak, proses selanjutnya adalah memasukkan kompos ke gudang penyimpanan sebelum di lakukan pengemasan. Selain produksi dalam bentuk kompos curah, kompos hasil ayakan juga bisa di proses lagi menjadi pupuk organik bentuk granular atau butiran.
8. Proses Membuat Pupuk Organik Granular
Untuk membuat pupuk organik granular, kompos yang sudah di saring tadi di masukkan ke dalam mesin molen yang berputar stasioner dengan di campur air dan kalsit sebagai bahan perekat. Untuk membuat kompos curah menjadi bentuk granular menggunakan mesin molen membutuhkan waktu sekitar 30-45 menit dimana sekali proses bisa di hasilkan sekitar 100kg pupuk organik granular. Pupuk organik berbentuk granular tersebut kemudian di jemur sampe kering.Setelah kering pupuk organik granular tersebut bisa di kemas.
Prosedur Pengomposan
Prosedur umum pengomposan pada prinsipnya hampir sama seperti pada prosedur yang telah kami jelaskan di bagian lain. Tetapi ada sedikit modifikasi yang disesuaikan dengan karakteristik bahan yang akan dikomposkan. Langkah-langkah umumnya sebagai berikut:
1. Pengumpulan dan pemisahan sampah
Sampah dikumpulkan dari dalam pasar dan ditampung di ruang penampungan. Di tempat ini sampah non organik dipisahkan dengan sampah organik.Karena sebagian besar sampah pasar Banjarsari adalah sampah organik, tahapan ini mudah dilakukan secara manual.Menampung sampah sekaligus menyortir sampah non organik.
2. Pencacahan Sampah
Sampah organik yang sudah terpisah dengan sampah non organik selanjutnya dicacah dengan menggunakan mesin pencacah. Tujuan dari pencacahan ini adalah untuk memperkecil dan menyeragamkan bahan baku kompos.
3. Penyiapan PROMI
Umumnya untuk bahan-bahan lain PROMI diencerkan dengan air, tetapi untuk sampah pasar ini PROMI tidak boleh diencerkan dengan air. Kandungan air di dalam sampah sudah cukup tinggi sehingga penambahan air akan kurang baik untuk proses pengomposan. Bahan yang digunakan untuk mengencerkan PROMI adalah pasir atau tanah kering.Tanah/Pasir diayak terlebih dahulu sebelum digunakan.
4. Pecampuran PROMI di dalam Bak Pengomposan
Selanjutnya sampah yang telah dicacah dicampurkan dengan PROMI dan ditampung di bak-bak pengomposan. Sampah tidak boleh diinjak-injak, karena akan menyebabkan menjadi padat dan kandungan udara di dalam kompos berkurang. Setelah itu biarkan sampah dengan terbuka sampai 14 hari dan siap di panen. Setiap 3 hari sekali dilakukan pembalikan sampah.
5. Panen Kompos
Setelah 14 hari sampah akan berubah warna menjadi kehitaman dan menjadi lebih lunak. Kompos sampah telah cukup matang.Kompos selanjutnya dipanen dan dibawa ke tempat pengolahan lebih lanjut.Di tempat ini kompos dicacah lagi dan dikemas ke dalam karung-karung plastic. Setelah proses ini kompos atau pupuk siap untuk dipasarkan.
6. Pengolahan Paska Panen
Setelah dipanen kompos dijemur untuk mengurangi kadar air kompos. Kompos yang telah kering selanjutnya dicacah agar ukurannya seragam dan menarik.Kemudain kompos dikemas ke dalam karung-karung plastik.
7. Pengemasan
Setelah itu dilakukan pengemasan sesuai dengan permintaan konsumen.Untuk kompos curah kita kemas dalam karung berisi 20 kg. Sedangkan untuk pupuk organik bentuk granular 1 sak/karung berisi 25 kg. Setelah dikemas kompos dan pupuk organik granular tersebut siap untuk di jual.
BAB IV
RENCANA BIAYA PENELITIAN
1. Biaya Peralatan Mesin
NO Nama Barang Jumlah Biaya
1. Mesin pencacah kompos 1 Rp 17.500.000,00
2. Ayakan 1 Rp 5.000,00
3. Pan granulator 1 Rp 10.900.000,00
4. Timbangan 1 Rp 1.200.000,00
5. Mesin jahit karung 1 Rp 650.000,00
Total Biaya Rp 30.255.000,00
2. Biaya Tenaga Kerja
No Pelaksana Jumlah
Honor/Hari
Biaya
1. Koordinator 1 Rp35.000,00 Rp 35.000,00
2. Karyawan 6 Rp25.000,00 Rp150.000,00
3. Pekerja 7 Rp15.000,00 Rp105.000,00
Total Biaya Rp290.000,00
3. Biaya Bahan Tambahan
No Nama Bahan Jumlah Harga Jumlah Harga
1. Promi 1 Rp30.000,00 Rp30.000,00
Total Biaya Rp30.000,00
4. Biaya Peralatan Umum
No Nama Alat Jumlah Harga @ Jumlah Harga
1. Plastik mulsa penutup tumpukan kompos 460 m/roll Rp230.00,00/230 m/roll Rp 460.000,00
2. Sekop garpu untuk memilah-milah sampah 7 Rp 25.000,00 Rp 175.000,00
3. Keranjang sampah 17 Rp 15.000,00 Rp 255.000,00
4. Ember 10 Rp 3.000,00 Rp 30.000,00
5. Karung 20 Rp 1.000,00 Rp 20.000,00
6. Tali plastic 5 Rp 8.200,00 Rp 41.000,00
7. Gerobak sampah 5 Rp400.000,00 Rp2.000.000,00
8. Sekop 7 Rp 20.000,00 Rp 140.000,00
Total Biaya Rp3.121.000,00
REKAPITULASI RANCANGAN ANGGARAN BIAYA
No Nama Kebutuhan Biaya
1. Biaya Peralatan Mesin Rp 30.255.000,00
2. Biaya Tenaga kerja Rp 290.000,00
3. Biaya Bahan Tambahan Rp 30.000,00
4. Biaya Peralatan Umum Rp3.121.000,00
Total Biaya Rp 33.696.000,00
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
Produksi sampah untuk setiap harinya semakin hari semakin meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah produk dan pola konsumsi masyarakat. Hal yang harus dilakukan untuk mengatasi peningkatan volume sampah tersebut adalah dengan cara mengurangi volume sampah dari sumbernya. Tentunya keadaan tersebut secepat mungkin harus kita tangani untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan asri.Keadaan seperti penumpukan sampah dapat juga kita jumpai di pasar-pasar tradisional, misalnya pasar Banjarsari yang terletak di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Di pasar tersebut tentunya kita sering menjumpai penumpukan sampah yang terjadi di sudut-sudut pasar. Jika hal tersebut tidak segera kita tangani tentunya hal tersebut nanti akan menjadi sumber penyakit dan akan meninmbulkan bau yang tidak sedap. Maka dari itu segera mungkin kita harus mengatasi hal tersebut.
Cara yang dapat dilakukan adalah melakukan pengkomposan pada sampah-sampah organic seperti sayur-sayuran atau buah-buahan. Dengan melakukan pengkomposan pada sampah-sampah tersebut tentunya akan mengurangi volume penumpukan sampah di pasar Banjarsari. Dampaknya tidak hanya sampah di pasar bunder tersebut berkurang namun juga akan menambah nilai ekonomi bagi masyarakat. Karena kita dapat menjual pupuk hasil olahan tersebut. Cara pengolahannya pun hanya sederhana, yaitu dengan melakukan prosedur-prosedur sebagai berikut:
1. Pengumpulan dan pemilahan sampah
2. Pencacahan sampah
3. Penyiapan promi
4. Pencampuran promi di dalam bak pengkomposan
5. Panen kompos
6. Pengolahan pasca panen
7. Pengemasan
Dengan melakukan pengkomposan terhadap sampah-sampah organic yang terdapat di pasar Banjarsari Kabupaten Ciamis, selain mengurangi penumpukannya juga akan menghasilkan nilai ekonomis terhadap pupuk hasil olahannya. Sehingga pendapatan masyarakat otomatis juga akan meningkat seiring dengan penjualan pupuk hasil olahannya.
DAFTAR PUSTAKA
Gelbert M, Prihanto D, dan Suprihatin A, 1996. Konsep Pendidikan Lingkungan
Hidup dan ” Wall Chart ”. Buku Panduan Pendidikan Lingkungan Hidup,
PPPGT/VEDC, Malang
Slamet J,S, 2002. Kesehatan Lingkungan. Gadjah Mada Universty Press,
Yogyakarta.
Tim penulis PS, 2008. Penanganan dan Pengolahan Sampah. Jakarta : Penebar Swadaya
Oleh :
Nama/ NIM :Fahmi Hastanti M (11513075)
Muh. Syariffudin Zhein (11513076)
Umi Laelatushofiah (11513079)
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillaahirrahmaanirrohiim,
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan Rahamat, Hidayah, serta Inayah-Nya kepada kita semua sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal penelitian yang berjudul “Mengubah Sampah Organik di Pasar Banjarsari Kab.Ciamis menjadi Pupuk organik”. Tidak lupa juga sholawat serta salam kita curahkan kepada junjungan kita Nabi Agung Muhammad SAW yang telah kita tunggu-tunggu syafa’atnya di Yaumul Akhir nanti.
Proposal Penelitian berjudul Mengubah Sampah Organik menjadi Pupuk Organik di Pasar Banjarsari Kab.Ciamis ini, Alhamdulillah dengan perjalanan waktu yang cukup panjang dengan pengalaman yang berliku-liku bisa penulis selesaikan.Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam Proposal Penelitian ini terdapat banyak sekali kekurangan-kekurangan baik dari segi penggunaan kata dan bahasa yang belum memenuhi kaidah yang tepat, maupun dari isi penelitian ini sendiri.Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan bantuan, kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak yang membaca Proposal Penelitian ini.
Dalam menyelesaikan proposal penelitian ini penulis cukup banyak mendapatkan bimbingan dan bantuan baik secara moril maupun material.Oleh sebab itu penulis mempersembahkan ucapan terima kasih kepada, Yth : Hijrah Purnama Putra, S.T., M. Eng
Sekali lagi penulis ucapkan syukur kepada Ilahi Rabbi semoga ilmu yang didapatkan mendatangkan makna dan manfaat dalam kehidupan, terima kasih.
Wassalamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakatuh
Penulis .
BAB I
PENDAHULUAN
A. Judul
Pada kegiatan Program Kreatifitas Mahasiswa yang akan diikuti saat ini kami mengambil judul “Mengubah Sampah Organik di Pasar Banjarsari Kab. Ciamis menjadi Pupuk organik ”, yang akan diuraikan secara jelas pada penjelasan berikut.
B. Latar Belakang
Pertumbuhan ekonomi dan pertambahan penduduk yang terus meningkat seiring peluang usaha yang semakin ketat serta untuk mendapat modal usaha sulit di Indonesia menyebabkan pertambahan konsumsi energi di segala sektor kehidupan seperti transportasi, listrik, dan industry meningkat. Sehingga secara langsung menimbulkan permasalahan sampah kota, yaitu sampah organik atau sampah anorganik yang pada khususnya dihasilkan pasar-pasar tradisional. Misalnya saja Pasar Banjarsari yang terdapat di Kabupaten Ciamis, di pasar ini banyak kita jumpai berbagai macam sampah organik seperti sayur-sayuran, buah-buahan, dan lain-lain.Sampah-sampah tersebut hanya dibuang dan dibiarkan begitu saja di tempat pembuangan sampah tanpa ada pemisahan antara sampah kering dan sampah padat. Tentunya lama-kelamaan hal tersebut akan menjadikan tempat sampah tersebut menjadi sarang berbagai hewan dan akan menimbulkan bau yang kurang sedap. Maka dari itu, sekarang kita mulai berfikir bagaimana cara kita untuk mengurangi tumpukan sampah organic tersebut untuk kita olah.
Di sini kami telah menyiapkan progam untuk mengolah sampah-sampah organic tersebut khususnya sampah sayur-sayuran dan buah-buahan untuk kita olah menjadi pupuk.Yang mana nantinya hasil pengolahan dari sampah-sampah organic tersebut yang berupa pupuk dapat kita jual kepada masyarakat.
C. Rumusan Masalah
Dalam melakukan penelitian mengenai mengubah sampah organic menjadi pupuk organic di Pasar Banjarsari Kab.Ciamis. Maka diperlukan rumusan masalah yang bisa membantu mencari solusi dan sebab akibat dari aktifitas masyarakat di pasar tradisional pada khususnya.
Adapun rumusan masalah yang diterapkan adalah :
1. Apa solusi yang dilakukan untuk mengatasi masalah-masalah tentang menumpuknya sampah khususnya sayur-sayuran dan buah-buahan di Pasar Banjarsari?
2. Bagaimanakah proses pengolahan sampah pasar hingga menjadi pupuk organic?
D. Tujuan Penelitian
Tujuan di dirikannya Unit Pengolahan Sampah Pasar Banjarsari Kab. Ciamis adalah :
1. Mampu mengurangi (reduce) volume sampah yang di buang ke tempat pembuangan sampah akhir (TPA)
2. Dapat mengkonversi (reuse & recycle) sampah menjadi barang yang berguna bagi masyarakat seperti pupk kompos, pupuk cair dan bio gas
3. Dengan pengelolaan yang profesional konversi di harapkan bisa mendatangkan keuntungan ekonomi dari hasil penjualan pupuk kompos, pupuk cair dan bio gas
4. Dapat melakukan replikasi pengolahan sampah ke pasar tradisional yang lain.
E. Manfaat Penelitian
Manfaat yang dapat di ambil dari penelitian ini adalah :
1. Mereduksi sampah secara sistematis.
2. Menambah penghasilan bagi komunitas pasar.
3. Menyediakan pupuk organik berkualitas tinggi bagi petani dengan harga terjangkau.
4. Menanggulangi kelangkaan pupuk dan lahan kritis.
5. Mengurangi beban pengelolaan sampah pemerintah daerah
6. Mencegah pemanasan global.
7. Mendukung terciptanya ketahanan pangan nasional berbasiskan pertanian organik.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Pada bab ini akan diuraikan hal-hal yang berkaitan dengan persampahan yang dikutip dari beberapa literatur. Beberapa hal yang akan dikutip adalah pengertian tentang sampah,jenis-jenis sampah, dampak negative sampah dan teknologi pengomposan.
a. Pengertian Sampah
Pengertian sampah adalah suatu yang tidak dikehendaki lagi oleh yang punya dan bersifat padat. Sementara didalam UU No 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, disebutkan sampah adalah sisa kegiatan sehari hari manusia atau proses alam yang berbentuk padat atau semi padat berupa zat organik atau anorganik bersifat dapat terurai atau tidak dapat terurai yang dianggap sudah tidak berguna lagi dan dibuang kelingkungan, (Slamet,2002).
Berdasarkan difinisi diatas, maka dapat dipahami sampah adalah :
1. Sampah yang dapat membusuk (garbage), menghendaki pengelolaan yang cepat. Gas-gas yang dihasilkan dari pembusukan sampah berupa gas metan dan H2S yang bersifat racun bagi tubuh.
2. Sampah yang tidak dapat membusuk (refuse), terdiri dari sampah plastik, logam, gelas karet dan lain-lain.
3. Sampah berupa debu/abu sisa hasil pembakaran bahan bakar atau sampah.
4. Sampah yang berbahaya terhadap kesehatan, yakni sampah B3 adalah sampah yang karena sifatnya, jumlahnya, konsentrasinya atau karena sifat kimia, fisika dan mikrobiologinya dapat meningkatkan mortalitas dan mobilitas secarabermakna atau menyebabkan penyakit reversible atau berpotensi irreversible atau sakit berat yang pulih.
5. Menimbulkan bahaya sekarang maupun yang akan datang terhadap kesehatan atau lingkungan apabila tidak diolah dengan baik.
b. Sumber- Sumber Sampah
Menurut Gilbert dkk.(1996), sumber-sumber timbulan sampah adalah sebagai berikut :
a. Sampah dari pemukiman penduduk
Pada suatu pemukiman biasanya sampah dihasilkan oleh suatu kluarga yang tinggal disuatu bangunan atau asrama.
Jenis sampah yang dihasilkan biasanya cendrung organik, seperti sisa makanan atau sampah yang bersifat basah, kering, abu plastik dan lainnya.
b. Sampah dari tempat – tempat umum dan perdagangan
Tempat- tempat umum adalah tempat yang dimungkinkan banyaknya orang berkumpul dan melakukan kegiatan. Tempat – tempat tersebut mempunyai potensi yang cukup besar dalam memproduksi sampah termasuk tempat perdagangan seperti pertokoan dan pasar. Jenis sampah yang dihasilkan umumnya berupa sisa – sisa makanan, sayuran busuk, sampah kering, abu, plastik, kertas, dan kaleng- kaleng serta sampah lainnya.
Berbagai macam sampah yang telah disebutkan diatas hanyalah sebagian kecil saja dari sumber- sumber sampah yang dapat ditemukan dalam kehidupan sehari - hari. Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan manusia tidak akan pernah lepas dari sampah. Terutama penumpukan sampah yang terjadi di tempat-tempat umum seperti di pasar-pasar. Di pasar-pasar yang setiap harinya digunakan untuk berdagang antara penjual dengan pembeli tentunya tidak lepas dari sampah yang dihasilkannya.
c. Jenis– Jenis Sampah
Jenis sampah yang ada di sekitar kita cukup beraneka ragam, ada yang berupa sampah rumah tangga, sampah industri, sampah pasar, sampah rumah sakit, sampah pertanian, sampah perkebunan, sampah peternakan, sampah institusi/kantor/sekolah, dan sebagainya. Berdasarkan asalnya, sampah padat dapat digolongkan menjadi 2 (dua) yaitu sebagai berikut :
1. Sampah Organik
Sampah organik adalah sampah yang dihasilkan dari bahan – bahan hayati yang dapat didegradasi oleh mikroba atau bersifat biodegradable. Sampah ini dengan mudah dapat diuraikan melalui proses alami. Sampah rumah tangga sebagian besar merupakan bahan organik.
Termasuk sampah organik, misalnya sampah dari dapur, sisa – sisa makanan, pembungkus (selain kertas, karet dan plastik), tepung , sayuran, kulit buah, daun dan ranting. Selain itu, pasar tradisional juga banyak menyumbangkan sampah organic seperti sampah sayuran, buah-buahan dan lain-lain.
2. Sampah Anorganik
Sampah anorganik adalah sampah yang dihasilkan dari bahan-bahan nonhayati, baik berupa produk sintetik maupun hasil proses teknologi pengolahan bahan tambang. Sampah anorganik dibedakan menjadi : sampah logam dan produk – produk olahannya, sampah plastik, sampah kertas, sampah kaca dan keramik, sampah detergen. Sebagian besar anorganik tidak dapat diurai oleh alam/ mikroorganisme secara keseluruhan (unbiodegradable). Sementara, sebagian lainnya hanya dapat diuraikan dalam waktu yang lama. Sampah jenis ini pada tingkat rumah tangga misalnya botol plastik, botol gelas, tas plastik, dan kaleng, (Gelbert dkk, 1996).
d. Dampak Negatif Sampah
Sampah padat yang bertumpuk banyak tidak dapat teruraikan dalam waktu yang lama akan mencemarkan tanah.
Yang dikategorikan sampah disini adalah bahan yang tidak dipakai lagi ( refuse) karena telah diambil bagian-bagian utamanya dengan pengolahan menjadi bagian yang tidak disukai dan secara ekonomi tidak ada harganya. Menurut Gelbert dkk (1996) ada tiga dampak sampah terhadap manusia dan lingkungan yaitu :
1. Dampak Terhadap Kesehatan
Lokasi dan pengelolaan sampah yang kurang memadai (pembuangan sampah yang tidak terkontrol) merupakan tempat yang cocok bagi beberapa organisme dan menarik bagi berbagai binatang seperti, lalat dan anjing yang dapat menjangkitkan penyakit. Potensi bahaya kesehatan yang dapat ditimbulkan adalah sebagai berikut :
a. Penyakit diare, kolera, tifus menyebar dengan cepat karena virus yang berasal dari sampah dengan pengelolaan tidak tepat dapat bercampur air minum. Penyakit demam berdarah (haemorhagic fever) dapat juga meningkat dengan cepat di daerah yang pengelolaan sampahnya kurang memadai.
b. Penyakit jamur dapat juga menyebar (misalnya jamur kulit).
c. Penyakit yang dapat menyebar melalui rantai makanan. Salah satu contohnya adalah suatu penyakit yang dijangkitkan oleh cacing pita
(taenia). Cacing ini sebelumnya masuk kedalam pencernakan binatang
ternak melalui makanannya yang berupa sisa makanan/ sampah.
2. Dampak Terhadap Lingkungan
Cairan rembesan sampah yang masuk kedalam drainase atau sungai akan mencemari air. Berbagai organisme termasuk ikan dapat mati sehingga beberapa spesien akan lenyap, hal ini mengakibatkan berubahnya ekosistem perairan biologis. Penguraian sampah yang di buang kedalam air akan menghasilkan asam organik dan gas cair organik, seperti metana. Selain berbau kurang sedap, gas ini pada konsentrasi tinggi dapat meledak.
3. Dampak Terhadap Keadaan Sosial dan Ekonomi
Dampak-dampak tersebut adalah sebagai berikut :
a. Pengelolaan sampah yang tidak memadai menyebabkan rendahnya tingkat kesehatan masyarakat. Hal penting disini adalah meningkatnya pembiayaan (untuk mengobati kerumah sakit).
b. Infrastruktur lain dapat juga dipengaruhi oleh pengelolaan sampah yang tidak memadai, seperti tingginya biaya yang diperlukan untuk pengolahan air. Jika sarana penampungan sampah kurang atau tidak efisien, orang akan cenderung membuang sampahnya dijalan. Hal ini mengakibatkan jalanperlu lebih sering dibersihkan dan diperbaiki.
e. Pengertian Pengelolaan Sampah Dengan Konsep 3R
Menurut Departemen Pekerjaan Umum Kota Semarang (2008), pengertian pengelolaan sampah 3R secara umum adalah upaya pengurangan pembuangan sampah, melalui program menggunakan kembali (Reuse), mengurangi (Reduce), dan mendaur ulang (Recycle).
1. Reuse (menggunakan kembali) yaitu penggunaan kembali sampah secara langsung,baik untuk fungsi yang sama maupun fungsi lain.
2. Reduce (mengurangi) yaitu mengurangi segala sesuatu yang menyebabkan timbulnya sampah.
3. Recycle (mendaur ulang) yaitu memanfaatkan kembali sampah setelah mengalami proses pengolahan.
4. Mengurangi sampah dari sumber timbulan, di perlukan upaya untuk mengurangi sampah mulai dari hulu sampai hilir, upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam mengurangi sampah dari sumber sampah ( dari hulu ) adalah menerapkan prinsip 3R.
f. Teknik Pengolahan Sampah
Sampah (refuse) adalah sebagian dari sesuatu yang tidak dipakai, tidak disenangi atau sesuatu yang harus dibuang, yang umumnya berasal dari kegiatan yang dilakukan oleh manusia (termasuk kegiatan industri), tetapi bukan biologis (karena human waste tidak termasuk didalamnya) dan umumnya bersifat padat (Azwar, 1990). Sumber sampah bisa bermacam-macam, diantaranya adalah : dari rumah tangga, pasar, warung, kantor, bangunan umum, industri, dan jalan. Berdasarkan komposisi kimianya, maka sampah dibagi menjadi sampah organik dan sampah anorganik. Penelitian mengenai sampah padat di Indonesia menunjukkan bahwa 80% merupakan sampah organik, dan diperkirakan 78% dari sampah tersebut dapat digunakan kembali (Outerbridge, ed., 1991).
Pengelolaan sampah adalah semua kegiatan yang dilakukan dalam menangani sampah sejak ditimbulkan sampai dengan pembuangan akhir. Secara garis besar, kegiatan di dalam pengelolaan sampah meliputi pengendalian timbulan sampah, pengumpulan sampah, transfer dan transport, pengolahan dan pembuangan akhir (Kartikawan, 2007) sebagai berikut :
1. Penimbulan sampah (solid waste generated)
Dari definisinya dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya sampah itu tidak diproduksi, tetapi ditimbulkan (solid waste is generated, not produced).
Oleh karena itu dalam menentukan metode penanganan yang tepat, penentuan besarnya timbulan sampah sangat ditentukan oleh jumlah pelaku dan jenis dan kegiatannya.Idealnya, untuk mengetahui besarnya timbulan sampah yang terjadi, harus dilakukan dengan suatu studi. Tetapi untuk keperluan praktis, telah ditetapkan suatu standar yang disusun oleh Departemen Pekerjaan Umum. Salah satunya adalah SK SNI S-04- 1993-03 tentang Spesifikasi timbulan sampah untuk kota kecil dan kota sedang. Dimana besarnya timbulan sampah untuk kota sedang adalah sebesar 2,75-3,25 liter/orang/hari atau 0,7-0,8 kg/orang/hari.
2. Penanganan di tempat (on site handling)
Penanganan sampah pada sumbernya adalah semua perlakuan terhadap sampah yang dilakukan sebelum sampah di tempatkan di tempat pembuangan. Kegiatan ini bertolak dari kondisi di mana suatu material yang sudah dibuang atau tidak dibutuhkan, seringkali masih memiliki nilai ekonomis. Penanganan sampah ditempat, dapat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap penanganan sampah pada tahap selanjutnya. Kegiatan pada tahap ini bervariasi menurut jenis sampahnya meliputi pemilahan (shorting), pemanfaatan kembali (reuse) dan daur ulang (recycle). Tujuan utama dan kegiatan di tahap ini adalah untuk mereduksi besarnya timbulan sampah (reduce)
3. Pengumpulan (collecting)
Adalah kegiatan pengumpulan sampah dan sumbernya menuju ke lokasi TPS. Umunmya dilakukan dengan menggunakan gerobak dorong dan rumah-rumah menuju ke lokasi TPS.
4. Pengangkutan (transfer and transport)
Adalah kegiatan pemindahan sampah dan TPS menuju lokasi pembuangan pengolahan sampah atau lokasi pembuangan akhir.
5. Pengolahan (treatment)
Bergantung dari jenis dan komposisinya, sampah dapat diolah. Berbagai alternatif yang tersedia dalam pengolahan sampah, di antaranya adalah :
a. Transformasi fisik, meliputi pemisahan komponen sampah (shorting) dan pemadatan (compacting), yang tujuannya adalah mempermudah penyimpanan dan pengangkutan.
b. Pembakaran (incinerate), merupakan teknik pengolahan sampah yang dapat mengubah sampah menjadi bentuk gas, sehingga volumenya dapat berkurang hingga 90-95%. Meski merupakan teknik yang efektif, tetapi bukan merupakan teknik yang dianjurkan. Hal ini disebabkan karena teknik tersebut sangat berpotensi untuk menimbulkan pencemaran udara.
c. Pembuatan kompos (composting), Kompos adalah pupuk alami (organik) yang terbuat dari bahan - bahan hijauan dan bahan organik lain yang sengaja ditambahkan untuk mempercepat proses pembusukan, misalnya kotoran ternak atau bila dipandang perlu, bisa ditambahkan pupuk buatan pabrik, seperti urea (Wied, 2004). Berbeda dengan proses pengolahan sampah yang lainnya, maka pada proses pembuatan kompos baik bahan baku, tempat pembuatan maupun cara pembuatan dapat dilakukan oleh siapapun dan dimanapun.
d. Energy recovery, yaitu tranformasi sampah menjadi energi, baik energi panas maupun energi listrik. Metode ini telah banyak dikembangkan di Negara-negara maju yaitu pada instalasi yang cukup besar dengan kapasitas ± 300 ton/hari dapat dilengkapi dengan pembangkit listrik sehingga energi listrik (± 96.000 MWH/tahun) yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk menekan biaya proses pengelolaan.
6. Pembuangan akhir
Pada prinsipnya, pembuangan akhir sampah harus memenuhi syarat-syarat kesehatan dan kelestarian lingkungan. Teknik yang saat ini dilakukan adalah dengan open dumping, di mana sampah yang ada hanya di tempatkan di tempat tertentu, hingga kapasitasnya tidak lagi memenuhi. Teknik ini sangat berpotensi untuk menimbulkan gangguan terhadap lingkungan. Teknik yang direkomendasikan adalah dengan sanitary landfill.
Di mana pada lokasi TPA dilakukan kegiatan-kegiatan tertentu untuk mengolah timbunan sampah.
Dewasa ini masalah sampah merupakan fenomena sosial yang perlu mendapat perhatian dari semua fihak, karena setiap manusia pasti memproduksi sampah, disisi lain masyarakat tidak ingin berdekatan dengan sampah. Seperti kita ketahui bersama bahwa sampah yang tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan berbagai dampak negatif pada lingkungan. Gangguan yang ditimbulkan meliputi bau, penyebaran penyakit hingga terganggunya estetika lingkungan.
Beberapa permasalahan yang timbul dalam sistem penanganan sampah sistem yang terjadi selama ini adalah :
a. Dari segi pengumpulan sampah dirasa kurang efisien karena mulai dari sumber sampah sampai ke tempat pembuangan akhir, sampah belum dipilah-pilah sehingga kalaupun akan diterapkan teknologi lanjutan berupa komposting maupun daur ulang perlu tenaga untuk pemilahan menurut jenisnya sesuai dengan yang dibutuhkan, dan hal ini akan memerlukan dana maupun menyita waktu.
b. Pembuangan akhir ke TPA dapat menimbulkan masalah, diantaranya :
- Perlu lahan yang besar bagi tempat pembuangan akhir sehingga hanya cocok bagi kota yang masih mempunyai banyak lahan yang tidak terpakai. bila kota menjadi semakin bertambah jumlah penduduknya, maka sampah akan menjadi semakin bertambah baik jumlah dan jenisnya. Hal ini akan semakin bertambah juga luasan lahan bagi TPA.
- Dapat menjadi lahan yang subur bagi pembiakan jenis-jenis bakteri serta bibit penyakit lain juga dapat menimbulkan bau tidak sedap yang dapat tercium dari puluhan bahkan ratusan meter yang pada akhirnya akan mengurangi nilai estetika dan keindahan lingkungan.
g. Teknologi Pengomposan
a. Pengertian Kompos
Pengomposan (Composting) adalah sistem pengolahan sampah organic dengan bantuan mikroorganisme sehingga membentuk pupuk organik (pupuk kompos). Mengolah sampah menjadi kompos (pupuk organik) dapat dilakukan dengan berbagai cara, mulai yang sederhana hingga memerlukan mesin (skala industri atau komersial).
Membuat kompos dapat dilakukan dengan metode aerob dan anaerob. Pada pengomposan secara aerob, proses dekomposisi bahan baku menjadi kompos akan berlangsung optimal jika ada oksigen.
Sementara pada pengomposan anearob dekomposisi bahan baku menjadi kompos tidak memerlukan oksigen. Disisi lain pengomposan juga berarti menghasilkan sumber daya baru dari sampah yaitu kompos yang kaya akan unsur hara mikro. Upaya lain yang dapat dilakukan untuk mengurangi timbulan sampah seperti yang terjadi di Pasar Banjarsari adalah dengan melakukan pengolahan sampah organic melalui metode yang ramah lingkungan dan mudah untuk bisa dilakukan. Contohnya adalah mengolah sampah organic yang dihasilkan di Pasar Banjarsari untuk dijadikan pupuk kompos (pupuk organik).
Gambar 2.5 Skema pemisahan sampah.
Sumber : Dinas Kebersihan Kota Semarang
Dengan melakukan metode tersebut tentunya akan berdampak positive bagi lingkungan dan masyarakat sekitar yang mengolahnya. Selain menjadikan lingkungan bersih dan asri tentunya akan menghasilkan nilai ekonomi tersendiri bagi masyarakat.
b. Komposting
Di masa mendatang, penggunaan kompos sebagai sumber nutrisi tanaman akan sangat berarti dan memiliki prospek bisnis yang cerah.
Kompos tidak hanya mengandung unsur hara makro (N, P, dan K) , unsur hara mikro (Fe, B, S, dan Ca) pun terkandung lengkap di dalamnya walaupun diakui kandungan haranya lebih sedikit dibandingkan pupuk kimia. Namun, bahan baku penyusun kompos melimpah ruah dan cara pembuatannya cukup sederhana.
Penggunaan kompos tidak hanya sebagai penyedia unsur hara, tetapi lebih diutamakan untuk memperbaiki kondisi fisik tanah. Telah terbukti bahwa produk organic, terutama kompos, mampu menjaga keseimbangan alam. Bahan organic, seperti kompos memiliki peran penting dalam menjaga efektivitas dan efisiensi penyerapan unsur hara dalam tanah. Tidak hanya itu, kompos dapat pula meningkatkan kapasitas tukar kation, menambah kemampuan tanah dalam menahan air, meningkatkan aktivitas biologi dalam tanah, serta mampu meningkatkan pH pada tanah asam.
Di beberapa lokasi, sampah organic yang menggunung merupakan bahan baku kompos potensial.
Kenyataan ini didukung pula oleh keinginan manusia untuk hidup lebih baik, sehat, dan terbebas dari residu berbahaya. Sayangnya penggunaan kompos sebagai pupuk alami tidak selalu berjalan mulus. Banyak kendala yang harus diadapi terutama dari segi pemasaran. Selain kualitas kompos yang tidak merata, persaingan dagang dengan pupuk kimia menjadi halangan utama. Selain lebih praktis, respon pupuk kimia alam menunjukkan hasil nyata lebih cepat disbanding kompos. Murahnya harga jual pupuk kimia dan diperlukan sertifikat sah dari lembaga Sertifikasi Nasional atau Internasional dalam menjual pupuk organic.
c. Prinsip Dasar Membuat Kompos
Secara gambling, kompos dapat diartikan sebagai pupuk alami yang terbuat dari bahan-bahan hijauan dan bahan organic lain yang sengaja ditambahkan untuk mempercepat proses pembusukan. Pengolahan sampah menjadi kompos merupakan proses mikrobiologi dan berjalan secara aerobic dan anaerobic yang saling menunjang pada kondisi lingkungan tertentu sesuai hasil rekayasa. Saat pengkomposan terjadi perombakan bahan organic menjadi komponen lebih sederhana dan stabil dalam larutan berbentuk ionic dan mudah diserap oleh tumbuhan.Tidak semua jenis sampah bisas dijadikan bahan dalam pembuatan kompos.
Jenis yang dipakai ialah sampah organic yang mudah sekali busuk. Pemilahan dan penyeleksian sampah pun menjadi tahap penting dalam pengolahan sampah menjadi kompos. Penyeleksian bahan kompos dilakukan dalam dua tahap, yaitu pemilahan sampah organic dengan sampah anorganik. Selanjutnya, pemilahan sampah organic yang dapat didaur ulang melalui pengkomposan aerobic atau anaerobic. Dengan bahan organic pilihan, proses serta produk hasil pengomposan akan optimal. Penyeleksianpun dilakukan untuk meminimalisir terjadinya risiko dalam pengomposan yaitu sebagai berikut.
a. Jangka waktu proses pengomposan lama
b. Kemungkinan kompos terkontaminasi oleh zat beracun atau zat kimia
c. Timbulnya bau busuk, kerumunan serangga, dan masalah lingkungan lain di tempat pengomposan
Sebelum dimasukkan dalam wadah atau bak pengkomposan, sebaiknya bahan-bahan terpilah dirajang terlebih secara manual atau menggunakan mesin perajang hingga mencapai ukuran 1-7,5 cm. Perajangan ini bertujuan untuk mempercepat proses pengomposan dan menghasilkan produk kompos yang halus.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
a. Data Penelitian
Peralatan dan Bahan yang Dibutuhkan
Metode pengolahan sampah ini sangat sederhana, sehingga tidak memerlukan banyak peralatan. Alat-alat yang diperlukan antara lain:
1. plastik mulsa untuk menutup tumpukan kompos
2. sekop garpu untuk memilah-milah sampah
3. keranjang sampah
4. ember
5. karung
6. tali plastic
7. gerobak sampah
8. sekop
9. dan alat-alat bantu lainnya
Untuk mempercepat proses pengomposkan gunakan aktivator pengomposan.
Tahapan Pengomposan
Tahapan pengomposan adalah sebagai berikut:
1. mengangkut sampah ke lokasi pengomposan
2. sortasi sampah
3. pencacahan sampah dengan mesin pencacah.
4. penyusunan di dalam jalur-jalur sampah
5. menambahkan aktivator pengomposan
6. inkubasi
7. pengeringan
Membuat Pupuk Organik dari Kompos Sampah
Kompos yang sudah kering bisa dijual dalam bentuk curah atau diolah menjadi pupuk organik granul.Membuat kompos curah lebih mudah, tetapi harganya juga murah. Membuat kompos sebagai pupuk organik granul harganya lebih tinggi namun memerlukan tambahan proses pengolahan yaitu penjemuran dan pengayakan.
Alat-alat yang diperlukan untuk membuat pupuk organik granul dari kompos sampah antara lain:
1. Mesin pencacah kompos
2. Ayakan
3. Pan granulator
4. Timbangan
5. Mesin jahit karung
6. Pengering (jika perlu)
Sedangkan bahan-bahan pengayak untuk pembuatan pupuk organik antara lain:
1. Kaptan
2. dolomit
3. fosfat alam
4. pupuk kandang
5. perekat (molases atau bahan perekat lain)
b. Objek Penelitian
Sampah-sampah organic pasar Banjarsari kab. Ciamis
c. Periode Penelitian
Proses pembuatan pupuk organic dari sampah pasar.
Proses pembuatan kompos/ pupuk organik dari sampah pasar dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1. Pengumpulan Sampah dan Pemilahan Sampah, Sampah dikumpulkan dari dalam pasar dan ditampung di ruang penampungan.Di tempat ini sampah non organik dipisahkan dengan sampah organik.Karena sebagian besar sampah pasar Banjarsari adalah sampah organik, tahapan ini bisa dilakukan secara manual.
2. Pencacahan Sampah, Sampah organik yang sudah terpisah dengan sampah non organik selanjutnya dicacah dengan menggunakan mesin pencacah. Tujuan dari pencacahan ini adalah untuk memperkecil dan menyeragamkan bahan baku kompos sehingga mempermudah proses fermentasi. Bila di anggap terlalu basah, sampah yang telah di cacah dapat di press lagi untuk mengurangi kadar air.
3. Penyiapan Aktivator (PROMI)
Untuk mempercepat proses pengomposan kita menggunakan activator PROMI dari Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia. Untuk setiap 1 Ton sampah mentah di butuhkan 1 kg PROMI. Saat musim kemarau dimana sampah pasar relatif kering Promi tersebut dicampurkan bersama 20 liter air dan 1 liter tetes tebu. Namun di musim penghujan dimana kadar air sampah dari pasar cukup tinggi maka PROMI di campurkan dengan pasir atau tanah kering. Kalo perlu sampah yang akan di olah di press dulu.
4. Pencampuran PROMI di dalam Bak Pengomposan
Selanjutnya sampah yang telah dicacah dicampurkan dengan PROMI dan ditampung di bak-bak pengomposan. Sampah tidak boleh diinjak-injak, karena akan menyebabkan menjadi padat dan kandungan udara di dalam kompos berkurang.
5. Pengadukan / Pembalikan
Unit Pengolahan Sampah Pasar Banjarsari ini menggunakan system aerob / dengan udara terbuka.Jadi 3 hari setelah sampah di masukkan ke bak pengomposan kemudian di lakukan pemeriksaan suhu kompos di dalam bak. Bila di rasa terlalu panas perlu di lakukan proses pengadukan atau pembalikan untuk memberikan sirkulasi udara yang bertujuan agar proses pengomposan bisa merata. Pengadukan di lakukan minimal 3 hari sekali.
6. Panen Kompos
Setelah 14 hari sampah akan berubah warna menjadi kehitaman dan menjadi lebih lunak. Kompos sampah telah cukup matang.Kompos selanjutnya dipanen dan dibawa ke tempat pengolahan lebih lanjut.Di tempat ini kompos dicacah sekali lagi untuk kemudian di ayak menggunakan saringan yang lebih kecil untuk menyeragamkan ukuran dan mempercantik tampilan kompos.
7. Pengolahan Paska Panen Setelah kompos yang sudah jadi di ayak, proses selanjutnya adalah memasukkan kompos ke gudang penyimpanan sebelum di lakukan pengemasan. Selain produksi dalam bentuk kompos curah, kompos hasil ayakan juga bisa di proses lagi menjadi pupuk organik bentuk granular atau butiran.
8. Proses Membuat Pupuk Organik Granular
Untuk membuat pupuk organik granular, kompos yang sudah di saring tadi di masukkan ke dalam mesin molen yang berputar stasioner dengan di campur air dan kalsit sebagai bahan perekat. Untuk membuat kompos curah menjadi bentuk granular menggunakan mesin molen membutuhkan waktu sekitar 30-45 menit dimana sekali proses bisa di hasilkan sekitar 100kg pupuk organik granular. Pupuk organik berbentuk granular tersebut kemudian di jemur sampe kering.Setelah kering pupuk organik granular tersebut bisa di kemas.
Prosedur Pengomposan
Prosedur umum pengomposan pada prinsipnya hampir sama seperti pada prosedur yang telah kami jelaskan di bagian lain. Tetapi ada sedikit modifikasi yang disesuaikan dengan karakteristik bahan yang akan dikomposkan. Langkah-langkah umumnya sebagai berikut:
1. Pengumpulan dan pemisahan sampah
Sampah dikumpulkan dari dalam pasar dan ditampung di ruang penampungan. Di tempat ini sampah non organik dipisahkan dengan sampah organik.Karena sebagian besar sampah pasar Banjarsari adalah sampah organik, tahapan ini mudah dilakukan secara manual.Menampung sampah sekaligus menyortir sampah non organik.
2. Pencacahan Sampah
Sampah organik yang sudah terpisah dengan sampah non organik selanjutnya dicacah dengan menggunakan mesin pencacah. Tujuan dari pencacahan ini adalah untuk memperkecil dan menyeragamkan bahan baku kompos.
3. Penyiapan PROMI
Umumnya untuk bahan-bahan lain PROMI diencerkan dengan air, tetapi untuk sampah pasar ini PROMI tidak boleh diencerkan dengan air. Kandungan air di dalam sampah sudah cukup tinggi sehingga penambahan air akan kurang baik untuk proses pengomposan. Bahan yang digunakan untuk mengencerkan PROMI adalah pasir atau tanah kering.Tanah/Pasir diayak terlebih dahulu sebelum digunakan.
4. Pecampuran PROMI di dalam Bak Pengomposan
Selanjutnya sampah yang telah dicacah dicampurkan dengan PROMI dan ditampung di bak-bak pengomposan. Sampah tidak boleh diinjak-injak, karena akan menyebabkan menjadi padat dan kandungan udara di dalam kompos berkurang. Setelah itu biarkan sampah dengan terbuka sampai 14 hari dan siap di panen. Setiap 3 hari sekali dilakukan pembalikan sampah.
5. Panen Kompos
Setelah 14 hari sampah akan berubah warna menjadi kehitaman dan menjadi lebih lunak. Kompos sampah telah cukup matang.Kompos selanjutnya dipanen dan dibawa ke tempat pengolahan lebih lanjut.Di tempat ini kompos dicacah lagi dan dikemas ke dalam karung-karung plastic. Setelah proses ini kompos atau pupuk siap untuk dipasarkan.
6. Pengolahan Paska Panen
Setelah dipanen kompos dijemur untuk mengurangi kadar air kompos. Kompos yang telah kering selanjutnya dicacah agar ukurannya seragam dan menarik.Kemudain kompos dikemas ke dalam karung-karung plastik.
7. Pengemasan
Setelah itu dilakukan pengemasan sesuai dengan permintaan konsumen.Untuk kompos curah kita kemas dalam karung berisi 20 kg. Sedangkan untuk pupuk organik bentuk granular 1 sak/karung berisi 25 kg. Setelah dikemas kompos dan pupuk organik granular tersebut siap untuk di jual.
BAB IV
RENCANA BIAYA PENELITIAN
1. Biaya Peralatan Mesin
NO Nama Barang Jumlah Biaya
1. Mesin pencacah kompos 1 Rp 17.500.000,00
2. Ayakan 1 Rp 5.000,00
3. Pan granulator 1 Rp 10.900.000,00
4. Timbangan 1 Rp 1.200.000,00
5. Mesin jahit karung 1 Rp 650.000,00
Total Biaya Rp 30.255.000,00
2. Biaya Tenaga Kerja
No Pelaksana Jumlah
Honor/Hari
Biaya
1. Koordinator 1 Rp35.000,00 Rp 35.000,00
2. Karyawan 6 Rp25.000,00 Rp150.000,00
3. Pekerja 7 Rp15.000,00 Rp105.000,00
Total Biaya Rp290.000,00
3. Biaya Bahan Tambahan
No Nama Bahan Jumlah Harga Jumlah Harga
1. Promi 1 Rp30.000,00 Rp30.000,00
Total Biaya Rp30.000,00
4. Biaya Peralatan Umum
No Nama Alat Jumlah Harga @ Jumlah Harga
1. Plastik mulsa penutup tumpukan kompos 460 m/roll Rp230.00,00/230 m/roll Rp 460.000,00
2. Sekop garpu untuk memilah-milah sampah 7 Rp 25.000,00 Rp 175.000,00
3. Keranjang sampah 17 Rp 15.000,00 Rp 255.000,00
4. Ember 10 Rp 3.000,00 Rp 30.000,00
5. Karung 20 Rp 1.000,00 Rp 20.000,00
6. Tali plastic 5 Rp 8.200,00 Rp 41.000,00
7. Gerobak sampah 5 Rp400.000,00 Rp2.000.000,00
8. Sekop 7 Rp 20.000,00 Rp 140.000,00
Total Biaya Rp3.121.000,00
REKAPITULASI RANCANGAN ANGGARAN BIAYA
No Nama Kebutuhan Biaya
1. Biaya Peralatan Mesin Rp 30.255.000,00
2. Biaya Tenaga kerja Rp 290.000,00
3. Biaya Bahan Tambahan Rp 30.000,00
4. Biaya Peralatan Umum Rp3.121.000,00
Total Biaya Rp 33.696.000,00
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
Produksi sampah untuk setiap harinya semakin hari semakin meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah produk dan pola konsumsi masyarakat. Hal yang harus dilakukan untuk mengatasi peningkatan volume sampah tersebut adalah dengan cara mengurangi volume sampah dari sumbernya. Tentunya keadaan tersebut secepat mungkin harus kita tangani untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan asri.Keadaan seperti penumpukan sampah dapat juga kita jumpai di pasar-pasar tradisional, misalnya pasar Banjarsari yang terletak di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Di pasar tersebut tentunya kita sering menjumpai penumpukan sampah yang terjadi di sudut-sudut pasar. Jika hal tersebut tidak segera kita tangani tentunya hal tersebut nanti akan menjadi sumber penyakit dan akan meninmbulkan bau yang tidak sedap. Maka dari itu segera mungkin kita harus mengatasi hal tersebut.
Cara yang dapat dilakukan adalah melakukan pengkomposan pada sampah-sampah organic seperti sayur-sayuran atau buah-buahan. Dengan melakukan pengkomposan pada sampah-sampah tersebut tentunya akan mengurangi volume penumpukan sampah di pasar Banjarsari. Dampaknya tidak hanya sampah di pasar bunder tersebut berkurang namun juga akan menambah nilai ekonomi bagi masyarakat. Karena kita dapat menjual pupuk hasil olahan tersebut. Cara pengolahannya pun hanya sederhana, yaitu dengan melakukan prosedur-prosedur sebagai berikut:
1. Pengumpulan dan pemilahan sampah
2. Pencacahan sampah
3. Penyiapan promi
4. Pencampuran promi di dalam bak pengkomposan
5. Panen kompos
6. Pengolahan pasca panen
7. Pengemasan
Dengan melakukan pengkomposan terhadap sampah-sampah organic yang terdapat di pasar Banjarsari Kabupaten Ciamis, selain mengurangi penumpukannya juga akan menghasilkan nilai ekonomis terhadap pupuk hasil olahannya. Sehingga pendapatan masyarakat otomatis juga akan meningkat seiring dengan penjualan pupuk hasil olahannya.
DAFTAR PUSTAKA
Gelbert M, Prihanto D, dan Suprihatin A, 1996. Konsep Pendidikan Lingkungan
Hidup dan ” Wall Chart ”. Buku Panduan Pendidikan Lingkungan Hidup,
PPPGT/VEDC, Malang
Slamet J,S, 2002. Kesehatan Lingkungan. Gadjah Mada Universty Press,
Yogyakarta.
Tim penulis PS, 2008. Penanganan dan Pengolahan Sampah. Jakarta : Penebar Swadaya
Langganan:
Postingan (Atom)













